PENAJAM – Keselamatan peserta didik harus menjadi prioritas di tengah ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Sekolah diharapkan tidak memaksakan pembelajaran tatap muka apabila kondisi udara berisiko membahayakan kesehatan pelajar.
Hal itu menjadi perhatian Ketua DPRD PPU, Raup Muin, yang mendukung penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap.
Menurut Raup, kegiatan belajar mengajar harus menyesuaikan kondisi kualitas udara di masing-masing wilayah, terutama untuk mengurangi risiko paparan asap terhadap anak-anak.
“Keselamatan anak-anak harus menjadi prioritas. Kalau kondisi udara tidak sehat akibat kabut asap, saya mendukung penerapan pembelajaran jarak jauh agar mereka tetap bisa belajar tanpa harus menghadapi risiko kesehatan,” ungkap Raup, Minggu (18/10/2026).
Ia menegaskan, penerapan PJJ bukan berarti menghentikan kegiatan pendidikan. Kebijakan tersebut justru menjadi alternatif agar proses pembelajaran tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan peserta didik.
Terlebih, kondisi kabut asap dapat berbeda di setiap wilayah. Karena itu, penyesuaian sistem pembelajaran perlu mempertimbangkan situasi di empat kecamatan di PPU.
Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) PPU sebelumnya telah menerapkan PJJ bagi jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK) mulai Jumat (16/10/2026).
Sementara itu, pelaksanaan pembelajaran untuk jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) disesuaikan dengan kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing.
“Kita tidak ingin kegiatan pendidikan justru membuat anak-anak terpapar asap setiap hari. Kalau memang kondisinya belum memungkinkan, lebih baik pembelajaran dilakukan dari rumah sampai kualitas udara kembali membaik,” kata politisi Partai Gerindra ini.
Selain menyoroti aktivitas pendidikan, Raup mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap, khususnya kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan.
Kelompok tersebut meliputi anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.
“Saya mengimbau masyarakat, terutama kelompok rentan, untuk mengurangi aktivitas di luar rumah selama kabut asap masih terjadi. Kalau memang harus keluar, gunakan masker untuk membantu mengurangi paparan asap,” tuturnya.
Raup juga mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) dan instansi terkait yang menangani lingkungan hidup untuk terus memantau perkembangan kualitas udara.
Hasil pemantauan tersebut diharapkan dapat disampaikan secara berkala kepada masyarakat sebagai bahan pertimbangan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. (red)

